SURABAYA — Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara (Sultra) mulai mencuri perhatian investor internasional sebagai calon pusat hilirisasi komoditas perkebunan di Indonesia Timur.
Dalam ajang Kolaka Utara Industry, Trade & Investment Forum 2026 yang berlangsung di Surabaya, potensi kakao, kelapa hingga cengkeh dari daerah tersebut menjadi sorotan pelaku industri dan pemerintah dari berbagai negara.
Setelah sebelumnya mendapat perhatian dari investor asal Jerman, kini Australia juga mulai membuka peluang kerja sama perdagangan dan investasi berbasis industri pengolahan komoditas unggulan dari Kolaka Utara.
Managing Director Wisma Jerman, Mike Neuber, mengatakan Kolaka Utara memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi kawasan industri agribisnis modern berbasis hilirisasi kakao dan kelapa.
Menurutnya, permintaan pasar Eropa terhadap produk pertanian berkualitas dan berkelanjutan terus meningkat, sehingga daerah penghasil bahan baku seperti Kolaka Utara memiliki peluang besar masuk ke rantai industri global.
“Kolaka Utara memiliki potensi kuat untuk bergerak dari ekspor bahan mentah menuju industri bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar Eropa,” ujar Mike dalam forum tersebut.
Ia menjelaskan, teknologi pengolahan pangan asal Jerman saat ini menguasai lebih dari 25 persen pasar global, termasuk teknologi precision farming berbasis IoT dan GPS yang mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menekan kehilangan hasil pascapanen hingga 30 persen.
Potensi terbesar disebut berada pada sektor kakao. Luas kebun kakao di Kolaka Utara diperkirakan mencapai sekitar 78 ribu hektare, namun baru sebagian yang dimanfaatkan optimal.
Mike menilai hilirisasi menjadi kunci peningkatan ekonomi daerah. Kakao yang selama ini dijual dalam bentuk biji mentah dinilai memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi apabila diolah menjadi cocoa liquor, premium cocoa butter hingga produk turunan industri cokelat lainnya.
Selain kakao, komoditas kelapa juga dinilai memiliki prospek besar di pasar internasional. Produk turunan seperti Virgin Coconut Oil (VCO), karbon aktif dari tempurung kelapa hingga air kelapa premium disebut memiliki permintaan yang terus meningkat di pasar Eropa.
Investor Jerman bahkan menawarkan konsep pembangunan pabrik modular berskala fleksibel agar koperasi dan pelaku usaha lokal dapat memproduksi VCO maupun cocoa liquor tanpa harus membangun kawasan industri besar dengan biaya tinggi.
Tak hanya itu, pengolahan limbah tempurung kelapa menjadi karbon aktif dinilai dapat membuka sumber ekonomi baru sekaligus mendukung industri ramah lingkungan berbasis ekonomi sirkular.
Dalam forum tersebut, Mike juga menekankan pentingnya penerapan sistem digital traceability berbasis blockchain untuk memenuhi standar European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang kini menjadi syarat utama masuk ke pasar Eropa.
“Pembeli di Eropa kini semakin menuntut produk pertanian yang berkelanjutan dan memiliki sistem pelacakan yang jelas,” katanya.
Peluang pasar itu dinilai sangat besar. Jerman diketahui memiliki konsumsi cokelat sekitar 9 kilogram per kapita per tahun dan menjadi pasar produk organik terbesar kedua di dunia.
Produk kakao dan kelapa dari Kolaka Utara disebut berpotensi memperoleh kenaikan harga hingga 30 persen apabila berhasil mengantongi sertifikasi organik internasional.
Mike juga menyebut sejumlah perusahaan dan lembaga riset asal Jerman yang berpotensi menjadi mitra strategis pengembangan industri di Kolaka Utara, di antaranya Bühler Group, GEA Group, Norevo hingga Fraunhofer Institute.
Selain Jerman, Australia juga mulai melirik potensi hilirisasi komoditas perkebunan di Kolaka Utara.
Perwakilan Australian Trade and Investment Commission (AUSTRADE), Aris Pratama, menyebut kakao, kelapa dan cengkeh dari Kolaka Utara memiliki peluang besar masuk ke rantai pasar internasional.
“Indonesia dan Australia memiliki peluang besar membangun kemitraan perdagangan dan investasi berkelanjutan melalui komoditas pertanian bernilai tambah,” ujar Aris.
Menurutnya, kebutuhan impor kakao Australia diperkirakan meningkat dari sekitar USD709 juta pada 2021 menjadi USD1,38 miliar pada 2025. Produk yang paling banyak dibutuhkan berupa cocoa butter, pasta kakao dan bubuk kakao.
Sejumlah perusahaan besar seperti Cadbury, Nestlé, Mars hingga Arnott’s disebut menjadi bagian dari pasar potensial produk hilirisasi kakao Indonesia.
“Produk kakao premium dari daerah seperti Kolaka Utara memiliki peluang masuk ke pasar internasional yang lebih luas jika didukung pengolahan berkualitas dan rantai pasok berkelanjutan,” katanya.
Selain kakao, Australia juga diproyeksikan meningkatkan impor produk kelapa dari USD22 juta pada 2021 menjadi sekitar USD31,5 juta pada 2025. Produk yang banyak dibutuhkan antara lain desiccated coconut dan berbagai produk turunan kelapa lainnya.
Sementara untuk komoditas cengkeh, Indonesia masih menjadi produsen terbesar dunia dengan permintaan pasar yang terus tumbuh untuk kebutuhan industri makanan, minuman hingga farmasi.
Aris juga mendorong penguatan kerja sama langsung antara pelaku usaha Indonesia dan investor Australia melalui business matching dan pengembangan investasi bersama.
Menurutnya, kolaborasi di bidang teknologi pertanian, inovasi pangan dan rantai pasok berkelanjutan akan menjadi kunci pertumbuhan ekonomi masa depan, termasuk melalui pemanfaatan kerja sama ekonomi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).
Sementara itu, pemerintah pusat melalui Kementerian Perindustrian RI memberi sinyal kuat untuk menjadikan Kolaka Utara sebagai salah satu pusat hilirisasi kakao di Sulawesi.
Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian RI, Putu Juli Ardika, yang diwakili Yuli Astuti, mengatakan industri agro masih menjadi salah satu tulang punggung ekonomi nasional dengan pertumbuhan mencapai 4,95 persen pada 2025 dan kontribusi lebih dari 52 persen terhadap industri pengolahan nonmigas.
“Transformasi industri harus diarahkan pada peningkatan nilai tambah. Daerah penghasil bahan baku seperti Kolaka Utara memiliki peluang besar untuk masuk ke rantai industri pengolahan dan pasar ekspor global,” ujarnya.
Pemerintah pusat kini mendorong penguatan industri melalui modernisasi mesin produksi, penerapan industri hijau, pengembangan SDM berbasis vokasi hingga berbagai insentif investasi seperti tax holiday dan tax allowance.
Forum investasi tersebut dinilai menjadi momentum penting bagi Kolaka Utara untuk membuka akses teknologi, investasi dan pasar internasional sekaligus memperkuat posisi daerah sebagai calon pusat hilirisasi kakao dan kelapa di Indonesia Timur. (MS Network)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment